Loading...

Persiapan Anti Kaget Sebelum Menikah : Apa yang Perlu Didiskusikan?

12 May 2021 | admin

By: Sundari Jayanti, M.Psi., Psikolog

1.Apa itu Menikah?

Sebagai makhluk sosial, setiap individu pasti akan melakukan interaksi dengan individu lainnya. Saat individu melakukan interaksi, biasanya mereka akan memilih untuk berada ditengah orang-orang yang dikenal baik dan disukai. Ketika individu berada ditengah orang-orang yang dikenal baik dan disukai, individu biasanya akan merasakan kebebasan dalam berbicara, bertindak, dan berekspresi. Situasi seperti itu yang menunjukkan adanya ketertarikan antar individu. Ketertarikan antar individu itulah yang menyebabkan munculnya istilah menyukai, mencintai, menyayangi, atau hubungan intim lainnya. Ketertarikan yang tercipta diantara individu dapat membentuk sebuah hubungan yang lebih intens, seperti pertemanan, persahabatan, sampai perasaan cinta yang sering dituangkan dalam status pacaran ataupun pernikahan (Ahmadi, 2002).

Pernikahan menurut Duvall dan Miller (1985) adalah sebuah relasi sosial antara pria dan wanita yang mengacu pada hubungan seksual, melahirkan dan mengasuh anak, serta serta membuat tujuan bersama. Sementara menurut Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Rapoport (1963, dalam Duvall, 1977), kesiapan setiap pasangan untuk menikah harus didasari oleh tiga faktor utama, yaitu:

1.Menyiapkan diri untuk berperan sebagai suami atau istri.

2.Mampu menjadi pribadi yang berkomitmen dalam membentuk hubungan pernikahan.

3.Menyesuaikan pola-pola hubungan sebelum pernikahan dengan hubungan saat akan menikah.

Suami atau istri diharapkan dapat menjadi orang terdekat pasangan untuk saling berbagi, berkeluh kesah, dan juga saling mendukung dengan membangun empati satu sama lain, lebih mengerti akan kondisi pasangan, serta selalu menciptakan dan membangun komunikasi yang baik sebagai pasangan (Raush, Goodrich, dan Campbell 1963, dalam Duvall 1977).

2. Rencana Pernikahan, Apa yang Harus Didiskusikan sebelum menikah?

Bersadarkan tiga faktor utama yang menjadi dasar dalam kesiapan pasangan untuk menikah menurut Rapoport (1963), maka dapat diuraikan langkah-langkah yang dapat didiskusikan dengan pasangan, yaitu:

  1. Menyiapkan diri untuk berperan sebagai suami atau istri

Memahami apa peran dan tanggungjawab masing-masing sebagai suami atau istri.

A. Peran dan Tanggung jawab Suami:

  • Memiliki pekerjaan
  • Mendapatkan penghasilan
  • Bertanggungjawab atas keuangan keluarga
  • Mampu berkomunikasi dua arah dengan istri
  • Mampu menyelesaikan konflik dengan istri
  • Menjadi “wajah” yang mewakili keluarganya bersama istri
  • Pembuat keputusan utama
  • Pembuat dan penegak aturan

B. Peran dan Tanggung jawab Istri:

  • Melayani suami
  • Merawat rumah
  • Memenuhi kebutuhan suami seperti makanan, pakaian, hiburan
  • Mengikuti aturan yang telah ditetapkan
  • Berkomunikasi dua arah dengan suami
  • Mendukung keputusan suami

C. Peran dan Tanggung jawab Suami dan Istri:

  • Menemukan, merancang, dan memlihara rumah pertama
  • Mempertahankan cara yang memuaskan satu sama lain untuk saling mendukung
  • Mengalokasikan tanggungjawab apabila pasangannya merasa keberatan untuk melakukannya
  • Mempertahankan peran personal, emosional, dan seksual yang dapat diterima dengan baik
  • Berinteraksi dengan ipar (keluarga dari pasangan), kerabat, dan komunitas lingkungan
  • Merencanakan kemungkinan kelahiran anak-anak
  • Memelihara moral dan motivasi sebagai pasangan
  1. Mampu menjadi pribadi yang berkomitmen dalam membentuk hubungan pernikahan.

2. Robert J. Sternberg (1988) dalam bukunya yang berjudul “Triangular Love Theory”, mengatakan bahwa pernikahan merupakan lambang cinta yang disebut consummate love. Consummate love merupakan tipe cinta yang terdiri dari tiga komponen, yaitu intimacy, passion, dan commitment. Pasangan dengan tipe ini adalah pasangan yang saling mencintai, memiliki getaran seksual, dan memiliki relasi jangka panjang.

A. Intimacy merupakan perasaan dalam suatu relasi yang melibatkan keterbukaan, ikatan, dan keterhubungan (connectedness).

  • Bagaimana dengan pekerjaan? Siapa yang akan bekerja? Salah satu atau keduanya?
  • Batasan atau “aturan” apa saja yang ditetapkan?
  • Bagaimana “kita” akan mengisi waktu dalam pernikahan? Akan ada jadwal untuk liburan atau refreshing? Akan tetap menjalani aktivitas hiburan seperti saat pacaran atau tidak?
  • Apakah sudah mengetahui kekuatan dan kelemahan pasangan?
  • Bagaimana love-language pasangan?
  • Maukah saling memberi dan menerima dukungan secara emosional?
  • Bagaimana dengan keterbukaan dalam komunikasi? Sudahkah saling jujur satu sama lain?
  • Apa yang membuat kamu merasa bahwa pasangan kamu adalah hal yang penting bagimu?

Pasangan yang intim dikategorikan sebagai pasangan yang memiliki ikatan kuat dan interkasi yang cukup banyak meliputi kepercayaan, kejujuran, menghargai, komitmen, rasa aman, dukungan, kemurahan hati, loyalitas, kemersamaan, pengertian, dan penerimaan (L.B. Rubin, 1985 dalam Sternberg, 1998).

B. Passion adalah gairah dan kebutuhan yang mengacu pada self-esteem, pemeliharaan (nurturance), afiliasi, kekuasaan (dominance), kepatuhan (submission), dan pemenuhan seksual.

  • Apa yang paling kamu suka dari pasangan/sebaliknya?
  • Apa yang membuatmu jatuh cinta pada pasangan/sebaliknya?
  • Bagaimana dengan hasrat seksual pasangan/sebaliknya?
  • Bagaimana kamu dan pasangan memenuhi kebutuhan seksual masing-masing?
  • Bagian tubuh mana yang paling kamu suka dari pasangan/sebaliknya?
  • Apa yang akan dilakukan jika pasangan tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual karena suatu alas an tertentu?

C. Commitment mengacu pada sejauh mana seseorang cenderung tetap dengan sesuatu atau seseorang dan melihatnya sampai akhir

  • Bagaimana cara menghargai pasangan dan menyelesaikan masalah dengan pasangan?
  • Apakah pasangan bisa diandalkan saat dibutuhkan?
  • Bersediakah untuk saling berbagi berbagai hal bersama-sama bahkan mengorbankan waktu atau hobinya demi pasangan?
  • Bagaimana pandangan masing-masing terhadap perselingkuhan? Apa yang akan dilakukan jika pasangan berselingkuh?

3. Menyesuaikan pola-pola hubungan sebelum pernikahan dengan hubungan saat akan menikah.

  • Bagaimana pola asuh orang tua dulu saat masih kecil? Apa hal yang paling diingat?
  • Apakah pernah punya luka masa kecil?
  • Apakah memiliki Trust Issues atau insecurities?
  • Bagaimana dengan kondisi finansial masing-masing?
  • Apakah ingin punya anak? Berapa?
  • Jika salah satu tidak bisa memberikan anak, apa yang akan dilakukan?
  • Saat memiliki anak, bagaimana pola asuh yang direncanakan?
  • Bagaimana rencana pendidikannya?
  • Pernah selingkuh atau diselingkuhi?
  • Apa saja batasan antar pasangan terhadap lawab jenis?

CONTACT US

Address

Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah
No 35 C RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12740