Loading...

Online Dating Baik atau Buruk?

07 June 2021 | admin

By : Almadhia Qisthina

2020 sepertinya menjadi tahun dari online dating. Tercatat selama pandemi, jumlah pengguna dan jumlah waktu yang dihabiskan orang untuk aplikasi ini meningkat. Tinder mengatakan penggunanya memiliki 11 persen lebih banyak swipe dan 42 persen lebih banyak match dibanding 2019, menjadikan 2020 sebagai tahun terbaik bagi Tinder (Tinder, 2021).  Online dating sendiri merupakan fenomena yang mengiringi perkembangan teknologi terutama sejak hadirnya mesin komputer dan komersialisasi internet di tahun 90-an (Angwin, 1998). Dengan hadirnya internet sebagai medium kencan, individu dapat berpikiran terbuka, dan menjalin hubungan satu sama lain tanpa dibatasi ruang dan waktu (Yum & Hara, 2005). Aplikasi kencan berbasis sistem penentuan posisi global (GPS) seperti saat Tinder dan Bumble melakukan revolusi kecil pada cara individu untuk berinteraksi, dan terkadang bahkan jatuh cinta satu sama lain. Bahkan, empat puluh persen pengguna melaporkan bahwa mereka memiliki setidaknya satu hubungan yang mereka sebut “serius” dengan seseorang yang mereka temui secara online (Holtzauven, 2020). Faktanya, hal ini secara signifikan mengurangi stigma yang terkait dengan itu (Smith & Anderson, 2015). Meningkatnya hal ini bukanlah tanpa alasan melihat dari keadan pandemi yang “memaksa” sebagian besar orang bertemu secara daring. Lalu muncul pertanyaan utama, apakah bertemu secara daring dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya dapat membawa lebih banyak dampak buruk seperti stigma yang ada selama ini atau sebenarnya ini adalah hal yang baik?

Fenomena ini dapat dilihat dari beberapa aspek. Aspek pertama adalah dari tujuan penggunaan online dating. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Tinder, pengguna online dating sebanyak 60% merasa kesepian, dimana 40% dari Gen Z datang kepada online dating untuk bertemu dan mencari teman baru. Terlepas dari gambaran pada media yang menggambarkan online dating sebagai sebagai budaya hookup atau seks tanpa status (Sales, dalam Lutz, 2017), serta penggambaran pengguna sebagai mereka yang mencari cinta, seks, atau hal lainnya (Feur, dalam Lutz, 2017), namun penelitian lebih lanjut telah melihat bahwa pengguna online dating memiliki keinginan lebih dari kepuasan instan (Duguay, 2016) serta untuk menangani sejumlah kebutuhan yang berbeda (Ranzini &Lutz, 2017). Hal ini berkaitan dengan physical distancing untuk membatasi penyebaran virus, namun praktik jarak fisik secara inheren membatasi interaksi sosial orang secara langsung, yang dapat mempersempit rasa koneksi sosial mereka(Markel, 2007). Pengurangan keadaan fisik untuk koneksi sosial dapat menjadi memprihatinkan, karena lebih dari satu abad penelitian telah membuktikan betapa pentingnya koneksi sosial untuk kesejahteraan(Leary, 1995). Online dating membantu dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial dan faktor sosial dan perilaku sosial—termasuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial masyarakat—juga telah terbukti membantu meningkatkan well being selama pandemi.

Namun tidak hanya berkaitan dengan tujuan online dating sebagai pemenuh kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, tetapi pengguna online dating dapat mengekspresikan diri mereka sebebas bebasnya sesuai dengan apa yang ingin mereka tampilkan. Hal ini menarik sekaligus berbahaya karena mereka dapat menyembunyikan sisi negatif dan menonjolkan sisi positif dari diri mereka untuk mendapatkan pasangan. Kepopuleran penggunaan online dating ini akhirnya dimanfaatkan oleh banyak pihak. Motivasi pun bertambah, tidak hanya untuk menemukan pasangan, namun juga pernah ditemukan beberapa kasus seperti diungkapkan Dockterman menjelaskan banyaknya pengguna online dating yang tidak merepresentasikan dirinya secara jujur. Hal ini banyak terjadi mulai dari penggunaan foto profil yang sudah di edit, pemalsuan data diri, hingga catfishing yaitu membuat profil yang sama sekali palsu dengan tujuan untuk menipu orang lain.

Aspek kedua dapat dilihat dari efektivitas penggunaannya. J. B. Walther menjelaskan bahwa mengenai teori komunikasi hyperpersonal dimana aktivitas komunikasi dengan perantara komputer dianggap lebih memikat. Hal ini bukanlah tanpa alasan, pada komunikasi secara dari, individu dapat memiliki kebebasan untuk mengolah pesan tanpa ada batasan waktu seperti pada komunikasi luring. Permasalahannya juga diungkapkan bahwa komunikasi secara daring tidak memiliki isyarat secara non verbal, serta ketidakterbatasan waktu dapat menimbulkan perasaan tidak pasti.

Aspek terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah dampaknya. Penelitian pada tahun 2020 oleh Holtzauven menjelaskan bahwa orang yang menggunakan aplikasi kencan cenderung lebih tertekan, cemas, atau depresi. Faktanya, pengguna aplikasi kencan menghadapi stres tiga kali lipat dibandingkan dengan non-pengguna. Hal ini berkaitan dengan validasi yang dibutuhkan, serta penggambaran diri yang tidak realistis. Tercatat pada penelitian Zlot dan Goldstein (2018) peserta menyatakan bahwa mereka menggunakan aplikasi kencan dalam mengejar validasi harga diri mereka. Hal ini berdampak buruk saat mereka membuat profil untuk online dating mereka, mereka cenderung memilih kualitas diri terbaik dalam mereka, yang memang ada di diri mereka, namun mereka dapat merasa bahwa mereka tidak membuka diri dan interpretasikan diri dengan benar pada profil. Sedangkan yang mereka lakukan sebenarnya adalah normal, seperti layaknya orang- orang yang berkenalan di dunia nyata pada awalnya dengan menunjukan sisi baik dan buruk. Pada dampak baiknya, empat puluh persen dari kencan online melaporkan bahwa berada di situs kencan memiliki dampak positif pada harga diri mereka (Holtzauven, 2020). Hal ini mempunyai kaitan dengan kebutuhan terhadap kehidupan sosial yang dapat tercukupi dengan adanya online dating.

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dampak buruk dan berbahaya dari online dating? Yang pertama adalah pastikan tidak memberikan informasi personal seperti alamat rumah, serta kantor kepada seseorang yang belum pernah ditemui atau dikenal secara mendalam. Selanjutnya, kamu dapat melakukan double check terhadap pasangan yang kamu temui di dating app. Pengecekan ini dapat dilakukan melalui sosial media lainnya untuk memastikan orang tersebut bukanlah orang yang mencurigakan. Apabila memutuskan untuk bertemu, dapat dilakukan video chat sebelumnya, hal ini untuk dapat memastikan bahwa orang yang akan ditemui adalah orang yang nyata. Sangat baik apabila pertemuan dilakukan pada tempat publik, selain lebih aman, juga akan lebih nyaman dengan masih pada tahapan asing. Terakhir, jangan lupa memberitahu orang terdekat kemana kamu akan bertemu, serta berikan kabar saat berpindah tempat. Hal ini berguna agar apabila terdapat hal yang tidak diinginkan, dampaknya dapat diminimalisir.

Pada akhirnya, online dating layaknya sebuah koin, memiliki dua sisi. Baik dan buruknya merupakan pilihan dari yang menggenggamnya. Apakah akan membawa pada dampak baik dari menemukan pasangan, memiliki kebebasan dengan batasan yang baik, serta meningkatkan harga diri atau membawa dampak buruk dengan penipuan, tidak adanya isyarat secara verbal, serta kegagalan dalam mendapatkan validasi, seluruhnya pilihan pengguna.

Referensi

Duguay, S. (2016). Dressing up Tinderella: Interrogating authenticity claims on the mobile dating app Tinder. Information, Communication & Society, 20, 351–367.

Dockterman, E. (2013). Why We Don’t Trust Online-Dating Sites but Use them Anyway. Disadur dari: http://healthland.time.com/2013/10/21/why-we-dont-trust-online-dating-sites-but-use-them-anyway/

Holtzhausen N, Fitzgerald K, Thakur I, Ashley J, Rolfe M, Pit SW. Swipe-based dating applications use and its association with mental health outcomes: a cross-sectional study. BMC Psychol. 2020;8(1):22.

Leary, M. R. (1995). The need to belong: Desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497–529. https://doi.org/10.1037/0033-2909.117.3.497

Lutz, C. (2017). Where Dating Meets Data: Investigating Social and Institutional Privacy Concerns on Tinder. Social media Society Journal. 1-12

Markel, H., Lipman, H. B., Navarro, J. A., Sloan, A., Michalsen, J. R., Stern, A. M., & Cetron, M. S. (2007). Nonpharmaceutical Interventions Implemented by US Cities During the 1918-1919 Influenza Pandemic. JAMA, 298(6), 644–654. https://doi.org/10.1001/jama.298.6.644

Smith, A., & Anderson, M. (2015). 5 Facts about online dating. Pew Research Center.

Tinder. (2021). The Future of Dating is Fluid. Media Room

Walther, J. B. 1996. Computer-mediated Communication: impersonal, interpersonal, and

hyperpersonal interactions.

Yum, Y., & Hara, K. (2005). Computer-Mediated Relationship Development: A Cross-Cultural Comparison. J. Comput. Mediat. Commun., 11, 133-152.

Zlot Y, Goldstein M, Cohen K, Weinstein A. Online dating is associated with sex addiction and social anxiety. J Behav Addict. 2018;7(3):821-826. doi:10.1556/2006.7.2018.66


CONTACT US

Address

Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah
No 35 C RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12740