Loading...

Temani Ia yang Ingin Mengakhiri Hidupnya

13 September 2021 | admin

By: Mahira Syafana, S.Psi (Clinical Psychologist Candidate)

Apakah kamu pernah mendengar Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia atau World Suicide Prevention Day (WSPD)?

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia didirikan oleh International Association for Suicide Prevention (IASP) dan World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 dengan tujuan agar dapat mencegah perilaku bunuh diri (IASP, n.d).

Berdirinya WSPD didasari oleh tingginya angka bunuh diri. Menurut WHO, pada tahun 2016, jumlah kematian di dunia yang disebabkan oleh bunuh diri mencapai angka 793.000 kasus per tahun atau setara dengan satu kematian setiap 40 detiknya. Lebih lanjut, WHO melaporkan jumlah kasus kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebanyak 9.000 kasus per tahun (Pusdatin, 2019).
Tahukah kamu, bahwa faktor risiko utama dari perilaku bunuh diri diantaranya adalah karena adanya gangguan mental, percobaan bunuh diri atau suicide attempts sebelumnya, karakteristik kepribadian tertentu, adanya pemicu stres psikososial, paparan figur yang menginspirasi dan ketersediaan sarana untuk bunuh diri (Bilsen, 2018). Selain itu, Joiner (dalam Asare-Doku, Osafo, & Akotia, 2019) lebih lanjut menjelaskan bahwa social disconnection atau pemutusan hubungan sosial dan persepsi menjadi beban bagi orang lain dapat menjadi alasan mengapa bunuh diri terjadi, sedangkan social distancing diberlakukan semenjak pandemi COVID-19 merebak. Belum lagi bagi mereka yang harus melakukan isolasi mandiri. Sehingga tak heran jika angka kasus bunuh diri meningkat sejak pandemi COVID-19 (Reger, Stanley, & Joiner, 2020).

Nah, ternyata, orang yang hendak melakukan bunuh diri juga ada tanda-tandanya, loh! Menurut National Institute of Mental Health (NIMH, 2021), tanda-tanda tersebut diantaranya yaitu 

  • Mengancam atau berbicara tentang bunuh diri; 
  • Merencanakan bunuh diri; 
  • Merasa putus asa; 
  • Adanya kemarahan; 
  • Perilaku semaunya; 
  • Merasa terjebak; 
  • Peningkatan dalam penyalahgunaan zat; 
  • Menarik diri dari lingkungan sosial; 
  • Adanya kecemasan, agitasi, atau masalah tidur; 
  • Suasana hati yang berubah drastis; serta 
  • Merasa kurangnya tujuan dalam hidup.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan agar dapat menolong orang terdekat agar terhindar dari perilaku bunuh diri? Yuk, Aditers, simak bareng-bareng tips berikut yang dikutip dari Mental Health First Aid USA (2018).

  1. Assess

Nilai sejauh mana orang tersebut ingin melakukan bunuh diri dengan memberikan pertanyaan berikut:

  1. Apakah kamu memiliki pemikiran untuk bunuh diri?
  2. Apakah kamu berencana untuk membunuh dirimu sendiri?
  3. Apakah kamu sudah merencanakan kapan kamu akan melakukannya?
  4. Apakah kamu memiliki semua yang kamu butuhkan untuk menjalankan rencana ini?

Jika seseorang tersebut telah memiliki rencana bunuh diri dan siap untuk melakukannya, segera hubungi 119. Sebaliknya, jika ia tidak memiliki rencana bunuh diri namun baru memiliki pemikiran saja, maka hal ini tetap harus ditangani. Apabila ia dalam bahaya, temanilah orang tersebut agar tetap aman, karena orang yang akan melakukan bunuh diri tidak boleh dibiarkan sendirian. Jika kamu tidak bisa tinggal bersama dan menemaninya, carilah seseorang yang bisa menemani hingga bantuan tiba. Sebaliknya, jika ia memiliki pikiran untuk bunuh diri namun tidak dalam kondisi bahaya, maka cobalah untuk mendengarkan ceritanya jika memungkinkan.

  1. Listen Non-judgmentally

Jika orang tersebut tidak tampak dalam krisis atau bahaya, ajaklah mereka untuk menceritakan pikiran dan perasaannya tanpa menghakiminya. Mungkin terasa berat untuk mendengar seseorang yang kamu kenal sedang mengalami masalah, namun ketika kamu mencoba untuk mendengarkan dan menunjukkan kepedulian, maka hal tersebut dapat menenangkan mereka, dan perlahan kamu mulai memahami akar dari pemikiran bunuh dirinya.

Tidak apa-apa jika kamu tidak sepenuhnya memahami apa yang ia alami, karena yang terpenting adalah kamu menerima apa yang ia katakan, mengakuinya, dan dengan sungguh-sungguh mencoba membayangkan seperti apa rasanya menjadi dirinya. Jika saat kamu mendengarkan ceritanya lalu menemukan bahwa ia mungkin dalam keadaan bahaya, kembali ke langkah Assess di No. 1.

  1. Give Reassurance and Information

Kepastian atau reassurance sangatlah penting, karena orang yang memiliki ide bunuh diri mungkin tidak memiliki banyak harapan. Nyatakanlah kepadanya bahwa pikiran untuk bunuh diri adalah hal yang wajar dan sering dikaitkan dengan penyakit mental yang dapat ditangani, dan jika kamu merasa nyaman, kamu juga dapat menawarkan untuk membantu mereka mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu, kamu juga dapat bertanya langsung kepadanya, “apa yang bisa aku bantu?”

  1. Encourage to seek professional help

Doronglah ia untuk mencari bantuan profesional. Jika ia tidak dalam situasi yang berbahaya, pastikan ia memiliki kontak darurat yang siaga setiap saat, baik itu orang terdekat maupun praktisi kesehatan mental. Di samping itu, jika pemikiran untuk bunuh diri masih menghantuinya, ajaklah ia untuk mencari bantuan psikologis atau medis. Ingatkan padanya bahwa penanganan secara psikologis atau medis dapat menangani akar permasalahannya.

  1. Encourage to self-help

Kali ini, doronglah ia untuk menolong dirinya sendiri atau dengan strategi bantuan lainnya. Tanyakan padanya, hal apa atau siapa yang sebelumnya pernah menolongnya sebelumnya, mungkin seorang psikolog, anggota keluarga, teman, tokoh agama, atau mungkin komunitas tertentu pernah memberikannya dukungan. Manfaatkanlah support system tersebut selagi ada.
Nah, itu dia langkah-langkah yang bisa kamu terapkan apabila orang terdekat menunjukkan tanda-tanda perilaku bunuh diri. Ingat bahwa langkah tersebut tidak harus dilakukan secara berurutan. Lakukanlah langkah yang paling sesuai dengan keadaan orang tersebut. Selain itu, selalu ingat untuk tetap melakukan self-care setelah situasi krisis seperti ini, karena situasi tersebut dapat melelahkan namun bantuanmu akan memberi perubahan besar bagi nyawa seseorang.

Daftar Pustaka

Asare-Doku, W., Osafo, J., & Akotia, C. S. (2019). Comparing the reasons for suicide from attempt survivors and their families in Ghana. BMC Public Health, 19(1). https://doi.org/10.1186/s12889-019-6743-z

Bilsen J. (2018). Suicide and Youth: Risk Factors. Frontiers in psychiatry, 9, 540. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2018.00540

International Association for Suicide Prevention. (n.d). About WSPD. Diakses dari https://www.iasp.info/wspd2021/about/

Mental Health First Aid. (2018, 11 Desember). How to Help Someone Who is Suicidal. Diakses dari https://www.mentalhealthfirstaid.org/2018/12/how-to-help-someone-who-is-suicidal/

National Institute of Mental Health. (2021). Risk factors and warning signs of suicide. Diakses dari http://www.nimh.nih.gov/health/publications/suicide-faq/index.shtml

PUSAT DATA DAN INFORMASI (2019, 3 Oktober). Situasi dan Pencegahan Bunuh Diri. Diakses dari https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/19103000002/situasi-dan-pencegahan-bunuh-diri.htmlReger, M. A., Stanley, I. H., & Joiner, T. E. (2020). Suicide mortality and coronavirus disease 2019—a perfect storm? JAMA Psychiatry, 77(11), 1093. https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2020.1060


CONTACT US

Address

Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah
No 35 C RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12740