Loading...

Apakah Merasa Tidak Baik-baik Saja = Kekosongan Spiritual?

01 March 2022 | admin

By: Fionna Gracia, S.Psi (Clinical Psychologist Candidate)

Pernahkah kamu mendengar pernyataan-pernyataan di sekitarmu yang mengaitkan perasaan-perasaan negatif yang manusia alami sebagai bentuk dari kekosongan spiritual? seperti: “Mungkin dia kurang ibadah”. “Mungkin ada yang mengirim roh jahat”, atau “Mungkin kurang banyak bersyukur/kurang beriman”

Menjadi pertanyaan menarik bagi kita semua, apakah betul merasa tidak baik-baik saja selalu berakar dari kekosongan spiritual?

Stigma Gangguan Mental dan Dampaknya

Kekosongan spiritual merupakan salah satu stigma yang acap kita temui dalam masyarakat apabila menemui kasus-kasus gangguan kesehatan mental, terutama di Indonesia karena masyarakat Indonesia menjunjung tinggi agama dan kepercayaan sebagai nilai-nilai dasar negara. Tidak ada yang salah dalam memeluk agama dan kepercayaan, akan tetapi menjadikan kekosongan spiritual sebagai dasar dari semua permasalahan kita tentu akan menghasilkan dampak tersendiri.

Salah satu dampak yang timbul yakni, banyak individu yang menjadi enggan untuk mengakui diri sedang tidak baik-baik saja dan memilih untuk melakukan upaya-upaya spiritual tanpa benar-benar menyadari akar dari permasalahan emosional yang sedang dihadapi. Lantaran individu tidak belajar menyadari proses emosi diri secara internal, hal ini pun berpotensi dalam memperparah kondisi kesehatan mental individu tersebut. Belum lagi apabila stigma tersebut pun datang dari orang-orang terdekat di sekitar.

Dalam penelitian ditemukan bahwa, stigma yang diterima oleh ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) dan anggota keluarganya memengaruhi pengobatan medis yang dilakukan untuk memulihkan kondisi ODGJ. Semakin sedikit stigma yang diterima, semakin cepat dan berkelanjutan pengobatan medis yang dilakukan (Herdiyanto, et.al., 2017).

Manusia Tubuh Jiwa Roh
Pernahkah kamu berada di situasi dimana kamu mengalami hari yang buruk dan pengalaman tersebut berdampak pada kondisi emosi, fisik, serta rohani mu? Sebagai contoh, bayangkan suatu hari kamu sedang mengalami kegagalan. Impian terbesarmu harus terhalang lantaran hari itu kamu mengetahui bahwa kamu gagal menyelesaikan salah satu hal yang esensial. Hari itu mungkin membuat kamu tidak nafsu makan,merasa kecewa bahkan ingin menangis. Malam harinya kamu tidak bisa tidur memikirkan “apa yang salah denganmu?”. Kamu mulai meragukan Tuhan atau mungkin merasa enggan untuk beribadah. 

Contoh tersebut mungkin saja berbeda pada setiap orang, dan wajar adanya. Namun sedikit bisa menjelaskan akan adanya keterkaitan antara tubuh, jiwa, dan roh dalam diri seseorang.

Meskipun penelitian kontemporer cenderung mempelajari dan memperlakukan pikiran dan tubuh sebagai entitas yang terpisah, peningkatan penelitian mendukung gagasan tentang hubungan 3 arah antara Tubuh – Jiwa – Roh.

Penelitian mendukung hubungan yang kuat antara emosi dengan sistem kekebalan tubuh. Sebagai contoh: Keadaan emosional negatif yang berkelanjutan seperti stres, depresi, dan kecemasan dapat memperburuk fungsi kekebalan dan memengaruhi fungsi tubuh lainnya. Sebaliknya, emosi positif dikaitkan dengan berbagai hasil kesehatan, seperti mengurangi gejala kesehatan yang buruk, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kekebalan tubuh (Pressman & Black, 2012). Hal ini pun dapat dibuktikan secara biologis. Melalui studi neuroimaging dan neurofisiologi koneksi dan jalur antara emosi dan pikiran (Muehsam et al., 2017).

Dengan kata lain, emosi yang kita rasakan (baik itu negatif maupun positif) menghasilkan hormon tertentu yang kemudian memengaruhi aspek biologis dan perilaku terkait. Ini menunjukkan bahwa kita mungkin mendapat manfaat lebih dari mengakui interaksi ketiganya dan mengadopsi pendekatan yang lebih holistik untuk kesehatan dan kesejahteraan kita.

Bagaimana dengan spiritualitas?

Keyakinan spiritual dapat membantu orang menemukan makna hidup, dan juga dapat memengaruhi perasaan, perilaku, dan kesehatan mental mereka dengan membantu individu mengatasi tantangan hidup dan krisis identitas mereka (Khoynezhad, et.al.,2012).
Dengan kata lain, keimanan kita pun mampu memberdayakan kita menjadi individu yang lebih baik, dan lebih optimis dalam melihat masa depan.

Mencari Bantuan Profesional

Setelah mengetahui bahwa manusia terdiri atas 3 unsur yakni Tubuh Jiwa dan Roh, yang mana satu dan yang lainnya saling memiliki keterkaitan, serta saling melengkapi, maka penting untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental apabila kamu sedang merasa tidak baik-baik saja.

“Lalu, bagaimana jika saya ingin mencari bantuan profesional yang membahas kesehatan mental menggunakan pendekatan spiritualitas/kepercayaan saya, apakah ada layanan psikoterapi yang sesuai dengan kebutuhan saya?”

Tentu saja, Psikologi Transpersonal adalah bidang atau aliran pemikiran dalam psikologi yang berpusat pada aspek spiritual kehidupan manusia. Istilah psikologi transpersonal pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960-an oleh psikolog seperti Abraham Maslow dan Victor Frankl. Bidang ini menggunakan metode dan teori psikologis untuk mengkaji materi pelajaran spiritual.

Terapi Transpersonal merupakan salah satu pendekatan yang mungkin tepat buatmu. Terapi ini menggunakan kombinasi pendekatan yang mencakup filsafat Barat dan Timur, behaviorisme, dan psikologi kognitif yang juga mengambil pengaruh dari nilai-nilai agama karena mengakui langkah budaya lain dalam interaksi hubungan antara pikiran-tubuh (Cherry, 2021).

Sumber:

Cherry, Kendra. 2021. The Practice of Transpersonal Psychology:History, Popularity, and Research Areas. Verywellmind Article. Disadur dari: https://www.verywellmind.com/what-is-transpersonal-psychology-2795971#:~:text=Transpersonal%20psychology%20is%20a%20label,at%20the%20whole%20human%20experience.

Herdiyanto, Yohanes K., David H.T., Naomi Vembrianti. 2017. Stigma Terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa di Bali. INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi, Vol. 8 No. 2, Desember 2017, hlm 121-132

Kirkpatrick, Nikola. 2022. What Is Transpersonal Therapy? Definition & Types. Betterhelp Article. Disadur dari: https://www.betterhelp.com/advice/therapy/what-is-transpersonal-therapy/?utm_source=AdWords&utm_medium=Search_PPC_t&utm_term=_&utm_content=118051370367&network=g&placement=&target=&matchtype=&utm_campaign=11771068538&ad_type=text&adposition=&gclid=Cj0KCQiAuP-OBhDqARIsAD4XHpcJ7QfF42Ndm77jibx_fV7TfyF_yODRx8hOueTwKooC_SmiUOnfluEaAljDEALw_wcB

Khoynezhad, Gholamreza., Ali R. R., Ahmad S., 2012. Basic Religious Beliefs and Personality Traits. Iranian Journal of Psychiatry. 2012 Spring; 7(2): 82–86.

Muehsam, D., Lutgendorf, S., Mills, P. J., Rickhi, B., Chevalier, G., Bat, N., Chopra, D., & Gurfein, B. (2017). The embodied mind: A review on functional genomic and neurological correlates of mind-body therapies. Neuroscience and biobehavioral reviews, 73, 165–181. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2016.12.027

Pressman, Sarah & Black, L.L.. (2012). Positive Emotions and Immunity. The Oxford Handbook of Psychoneuroimmunology. 10.1093/oxfordhb/9780195394399.013.0006.


CONTACT US

Address

Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah
No 35 C RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12740