Loading...

Miskonsepsi tentang Kebahagiaan: Apa yang Sebenarnya Membuat Seseorang Bahagia?

02 March 2022 | admin

By: Shierlen Octavia, S.Psi (Clinical Psychologist Candidate)

Hal-hal apa yang membuatmu merasa bahagia? Pertanyaan klise ini sering kali ditanyakan dalam banyak kesempatan. Kebanyakan dari kita mungkin akan menjawab mendapat pekerjaan yang baik, uang yang banyak, punya barang-barang bagus, mendapat nilai yang baik, dan hal-hal material lainnya yang bisa kita sebutkan di dunia. Riset juga menyebutkan mengenai hal ini (Lilienfeld et al., 2010). Tentu saja ini tidak keliru karena sampai tahap tertentu, kita membutuhkan hal-hal tersebut untuk membuat kita bahagia. Kita juga tak dapat memungkiri bahwa kita akan merasa senang ketika memiliki hal yang kita idam-idamkan. Akan tetapi, benda-benda material jarang sekali dapat memberikan kita kebahagiaan dalam jangka waktu panjang (Hale, 2016).

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

Untuk bisa merasa bahagia, kita tentunya butuh memenuhi kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu. Kita butuh merasakan keamanan dan kenyamanan dari bisa memenuhi sandang, pangan, papan, dan dari membayar tagihan dan cicilan! Hingga kebutuhan dasar terpenuhi, pertambahan pendapatan sebenarnya tidak lagi berasosiasi dengan kesejahteraan psikologis (Lihat misalnya: Kahneman & Deaton, 2010). Akan tetapi, hal ini juga tidak berarti bahwa uang tidak memiliki kemampuan untuk membuat kita merasa bahagia. Yang sering kali membuat uang sering kali menjadi media yang kurang bisa meningkatkan kebahagiaan kita adalah pada cara kita menggunakan uang. Kebanyakan orang menggunakan uang mereka untuk membeli benda-benda material untuk diri sendiri, mulai dari mobil, rumah, benda elektronik, hingga hal yang lebih remeh temeh seperti cemilan dan kopi (Dunn & Norton, 2014). Padahal, dalam penelitian yang sama, ditemukan bahwa sebenarnya menghabiskan uang untuk diri sendiri sering kali tidak benar-benar bisa “membeli” kebahagiaan yang kita idam-idamkan.

Kok Bisa Begitu, Ya?

Kita sebenarnya tidak benar-benar mengetahui hal yang membuat kita bahagia (walaupun acap kali kita merasa kita tahu!). Otak kita dilengkapi dengan beberapa fitur yang sebenarnya tidak membantu kita dalam memahami kebahagiaan yang kita kejar. Pertama, intuisi kita sering kali salah dalam menilai hal yang kita kira akan kita peroleh di masa depan (Gilbert & Wilson, 2000). Dalam penelitian tersebut, dijelaskan pula bahwa kita juga sering mengira bahwa kita bisa memprediksi perasaan senang yang akan kita peroleh dengan tepat, namun ternyata lagi-lagi kita keliru. Kedua, pikiran kita sebenarnya tidak berpikir menggunakan standar absolut melainkan menggunakan referensi tertentu. Hal ini misalnya terbukti dalam salah satu penelitian mengenai kenaikan gaji (Lyubomirsky, 2007). Kita sering kali mengira bahwa jika kita mengalami peningkatan dalam penghasilan, kita akan bahagia. Padahal, ekspektasi kita cenderung akan terus meningkat seiring dengan pertambahan karena referensi kita mengenai gaji yang tinggi pun berubah sesuai dengan referensi kita. Sebagai makhluk sosial, kita sering kali membandingkan diri dengan orang lain (lihat misalnya Kuhn et al., 2011; atau Burleigh & Meegan, 2013). Jika tetangga sudah punya A, maka aku juga harus punya! Masalahnya, sampai kapan referensi yang kita buat akan berhenti?

            Ketiga, pikiran kita terbentuk untuk merasa “terbiasa” dengan suatu kondisi pada akhirnya. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah hedonic treadmill hypothesis. Hedonic treadmill hypothesis menyatakan bahwa sebagaimana kita berusaha untuk menyesuaikan kecepatan kita untuk menyamai kecepatan treadmill, kita menyesuaikan mood kita dengan kejadian dalam hidup. Ketika pertama kali memenangkan lotere, kita akan merasa sangat bahagia. Namun, kebahagiaan itu pada akhirnya akan jatuh kembali ke titik awal beberapa waktu kemudian (Lilienfeld et al., 2010). Kebahagiaan yang kita kira akan bertahan, ternyata memudar seiring waktu. Terakhir, kita juga kerap kali tidak menyadari bahwa pikiran kita pada akhirnya akan merasa “terbiasa” dengan suatu kondisi. Hal ini misalnya dijelaskan melalui salah satu penelitian oleh Levine et al. (2012). Dalam penelitian tersebut, ditemukan hasil bahwa ternyata kita sering kali menaksir emosi kita terlalu berlebihan. Misalnya ketika mendapat nilai yang buruk dalam suatu ujian, kita memprediksi bahwa kita akan merasa sangat sedih. Akan tetapi, nyatanya perasaan tersebut tidak seburuk yang dibayangkan!

Apa yang Benar-Benar Membuat Kita Bahagia?

Mengetahui bahwa kita bisa jadi terjebak dalam pikiran kita mengenai konsep kebahagiaan, pertanyaan paling penting yang bisa kita ajukan pada diri kita adalah: apa yang benar-benar bisa membuat kita bahagia? Jika hal yang selama ini kita pikir dapat membuat kita merasa bahagia ternyata tidak demikian adanya, apa yang sebenarnya bisa membuat kita bahagia? Jika menggunakan uang untuk membeli barang-barang bagi diri kita gagal memberikan kita kebahagiaan, apakah memberikannya kepada orang lain akan membuat kita merasa lebih bahagia?

            Berbagi kepada orang lain nyatanya memang ditemukan memiliki hubungan dengan meningkatnya kesejahteraan seseorang secara psikologis (Dunn, Aknin, & Norton, 2014). Kebahagiaan yang diperoleh dari berbagi ditemukan merupakan suatu hal yang universal–ditemukan tidak hanya dialami oleh orang dari latar belakang etnis, status sosioekonomi tertentu, bahkan usia (Aknin et al., 2013; Aknin, Hamlin, & Dunn, 2012). Secara spesifik, berbagi dengan mereka yang memiliki hubungan yang kuat dengan kita, berbagi secara langsung, dan perasaan telah memberikan dampak spesifik bagi orang lainlah yang membuat kita merasa bahagia (Aknin, Dunn, Sandstrom, & Norton, 2013; Aknin, Sandstrom, Dunn, & Norton, 2013; Aknin, Dunn, Whillans, Grant, & Norton, 2013). Di samping berbagi, menggunakan uang untuk membeli pengalaman alih-alih benda material juga ditemukan membantu seseorang untuk merasa bahagia (Gilovich & Kumar, 2015). Hal ini karena kebahagiaan yang didapatkan dari pengalaman sering kali lebih unik (Carter & Gilovich, 2010), lebih sulit untuk dibandingkan dengan orang lain (kita telah membahas sebelumnya bagaimana membandingkan diri dengan ‘referensi’ lain membuat kita merasa tidak bahagia; Rosenzweig & Gilovich, 2012), dan lebih tidak mudah mengalami hedonic treadmill hypothesis (Caprariello & Reis, 2013).

            Jika selama ini kita berupaya untuk mendapat kebahagiaan dari benda-benda material namun merasa tidak menemukannya, bagaimana kalau kita coba mengubah perspektif dan cara kita menggunakan uang kita? Mungkin di sanalah kita akan menemukan secercah kebahagiaan baru dan pengalaman yang tak tergantikan!

Referensi:

Aknin, L. B., Barrington-Leigh, C. P., Dunn, E. W., Helliwell, J. F., Burns, J., Biswas-Diener,

R., … & Norton, M. I. (2013). Prosocial spending and well-being: Cross-cultural evidence for a psychological universal. Journal of Personality and Social Psychology, 104(4), 635.

Aknin, L. B., Dunn, E. W., Sandstrom, G. M., & Norton, M. I. (2013). Does social connection

turn good deeds into good feelings?: On the value of putting the ‘social’ in prosocial spending. International Journal of Happiness and Development, 1(2), 155-171.

Aknin, L. B., Dunn, E. W., Whillans, A. V., Grant, A. M., & Norton, M. I. (2013). Making a

difference matters: Impact unlocks the emotional benefits of prosocial spending. Journal of Economic Behavior & Organization, 88, 90-95.

Aknin, L. B., Hamlin, J. K., & Dunn, E. W. (2012). Giving leads to happiness in young

children. PLoS One, 7(6), e39211.

Aknin, L. B., Sandstrom, G. M., Dunn, E. W., & Norton, M. I. (2011). It’s the recipient that

counts: Spending money on strong social ties leads to greater happiness than spending on weak social ties. PLoS One, 6(2), e17018.

Burleigh, T. J., & Meegan, D. V. (2013). Keeping up with the Joneses affects perceptions of

distributive justice. Social Justice Research, 26(2), 120-131.

Caprariello, P. A., & Reis, H. T. (2013). To do, to have, or to share? Valuing experiences over

material possessions depends on the involvement of others. Journal of Personality and Social Psychology, 104(2), 199.

Carter, T. J., & Gilovich, T. (2010). The relative relativity of material and experiential

purchases. Journal of Personality and Social Psychology, 98(1), 146.

Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2014). Prosocial spending and happiness: Using

money to benefit others pays off. Current Directions in Psychological Science, 23(1), 41-47.

Gilbert, D.T., Wilson, T.D. (2000). Miswanting: Some problems in forecasting of future

affective states. Dalam Thinking and feeling: The role of affect in social cognition. Forgas, J.P. (eds). Cambridge: Cambridge University Press.

Gilovich, T., & Kumar, A. (2015). We’ll always have Paris: The hedonic payoff from

experiential and material investments. Dalam Advances in experimental social psychology (Vol. 51, pp. 147-187). Academic Press.

Hale, J. (2016). What makes us happy?. PsychCentral. Diakses dari

https://psychcentral.com/lib/what-makes-us-happy#1

Kahneman, D., & Deaton, A. (2010). High income improves evaluation of life but not

emotional well-being. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(38), 16489-16493.

Kuhn, P., Kooreman, P., Soetevent, A., & Kapteyn, A. (2011). The effects of lottery prizes on

winners and their neighbors: Evidence from the Dutch postcode lottery. American Economic Review, 101(5), 2226-47.

Levine, L. J., Lench, H. C., Kaplan, R. L., & Safer, M. A. (2012). Accuracy and artifact:

Reexamining the intensity bias in affective forecasting. Journal of Personality and Social Psychology, 103(4), 584.

Lilienfeld, S., Lynn, S., Ruscio, J,.& Beyerstein, B. (2010). 50 great myths of popular

psychology: Shattering widespread misconceptions about human behavior. Malden,

MA: Wiley-Blackwell.

Lyubomirsky, S. (2007). The how of happiness: A new approach to getting the life you want.

New York, NY: Penguin Books.

Rosenzweig, E., & Gilovich, T. (2012). Buyer’s remorse or missed opportunity? Differential

regrets for material and experiential purchases. Journal of Personality and Social Psychology, 102(2), 215.


CONTACT US

Address

Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah
No 35 C RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12740