Loading...

Kebiasaan Mengkritik Diri Sendiri: Positif atau Negatif?

04 March 2022 | admin

by: Shabrina Audinia, S.Psi (Clinical Psychologist Candidate)

Dalam beberapa situasi, kenyataan yang kita hadapi tidak sesuai dengan hal yang kita harapkan. Perasaan kecewa yang muncul sebenarnya merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, terkadang seseorang merasakan ketidaknyamanan yang intens dan menyalahkan diri mereka sendiri atas kegagalan mereka dalam mencapai hal yang diinginkan.
Apakah aku tidak layak?
Apakah aku kurang berusaha?
Apakah aku tidak mampu?
Mengapa hal seperti ini saja tidak bisa kudapatkan?
Melihat kekurangan kita sebenarnya diperlukan sebagai bahan refleksi mengenal diri sendiri. Kita juga dapat belajar kesalahan yang telah kita lakukan untuk bisa dihindari di kemudian hari. Selain itu, kita juga bisa mengembangkan diri kita menjadi lebih baik lagi. Akan tetapi, terlalu fokus terhadap hal negatif dan mengabaikan hal positif yang telah kita lakukan bukanlah hal yang baik.

Kebiasaan ini disebut juga dengan self-criticism, yaitu kecenderungan untuk mengevaluasi diri secara negatif karena merasa tidak berharga, gagal, dan bersalah ketika ekspektasi tidak terpenuhi (Naragon-Gainey & Watson, 2012). Ketika terjadi secara terus-menerus, self-criticism dapat membawa dampak buruk terhadap kesehatan mental kita. Orang yang sering mengkritisi hal yang dikerjakan diri sendiri lama kelamaan akan menurunkan motivasi, bahkan memunculkan perasaan tidak berdaya. Tidak hanya itu, terlalu sering mengkritisi diri sendiri dapat meningkatkan simtom depresi (Fiske, Wetherell, & Gatz, 2009).

Terkadang pikiran negatif ini muncul dan diproses begitu saja tanpa kita sadari. Kita memang tidak bisa mengontrol seluruh pikiran yang muncul. Akan tetapi, kita bisa memilih respons apa yang kita berikan terhadap setiap pikiran yang muncul. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi dan mengelola pikiran negatif yang sering muncul:

  1. Berlatih Mindfulness
    Mindfulness adalah kesadaran pada momen saat ini (Grant & Zeidan, 2019). Kita bisa mempraktikkan mindfulness pada setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Dalam beribadah, saat makan, saat mengerjakan tugas, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Kita fokus terhadap setiap aspek dari kegiatan yang sedang kita lakukan. Dengan kita fokus dengan masa sekarang, kita bisa memahami pikiran dan perasaan yang kita miliki secara lebih baik. Sehingga, kita dapat melihat pikiran dan perasaan kita secara lebih objektif dan tidak menghakimi diri sendiri.
  2. Menulis
    Pikiran kita terkadang terasa seperti benang kusut yang membuat kita sulit untuk memproses hal yang kita alami. Dengan menulis, kita bisa melihat pikiran kita dalam bentuk yang lebih konkret dan membantu kita menguraikan benang-benang yang sebelumnya terasa sulit untuk dipahami. Coba tuliskan pikiran negatifmu setiap hari dan perhatikan bagaimana pikiran tersebut membawa dampak terhadap dirimu. Apakah dampak yang kamu rasakan positif dan memotivasi kamu untuk menjadi lebih baik? Atau jangan-jangan pikiran tersebut justru membuat dirimu bersalah dan merasa buruk terhadap diri sendiri?
  3. Fokus terhadap hal positif dan bersyukur
    Tantang pikiran negatif yang muncul dengan fokus terhadap hal yang bisa disyukuri. Ketika muncul pikiran negatif, terkadang sulit bagi kita untuk bisa memikirkan hal positif yang terjadi dalam hidup kita. Coba sebutkan tiga hal sederhana yang bisa kamu syukuri setiap hari. Walaupun kamu merasa bahwa tidak ada hal yang positif, kamu bisa menyebutkan hal sederhana seperti cuaca yang cerah, makan pagi yang enak, atau hal sederhana lainnya yang membuatmu tersenyum hari ini. Bersyukur sangat erat kaitannya dengan bahagia. Rasa syukur membantu seseorang untuk merasakan lebih banyak emosi positif, meningkatkan kesehatan, dan membangun hubungan yang lebih kuat (Health.harvard.edu, 2021).
  4. Mencari Bantuan Professional
    Apabila kamu mengalami kesulitan untuk mengelola pikiran negatifmu sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan professional. Kamu bisa mendapatkan bantuan professional dengan menghubungi ini

Jadi, mengevaluasi kesalahan yang pernah kita lakukan sebenarnya merupakan hal yang baik. Namun, hati-hati jangan sampai kamu justru terlalu fokus terhadap kesalahan dan justru mengabaikan hal positif yang sudah kamu lakukan hari ini.

Referensi:
Fiske, A., Wetherell, J. L., & Gatz, M. (2009). Depression in older adults. Annual Review of Clinical Psychology, 5, 363-389.
Grant, J. A., & Zeidan, F. (2019). Employing pain and mindfulness to understand consciousness: a symbiotic relationship. Current Opinion in Psychology, 28, 192-197.
Health.harvard.edu. (2021). Giving thanks can make you happier.
Naragon-Gainey, K., & Watson, D. (2012). Personality, Structure. In Encyclopedia of Human Behavior: Second Edition (pp. 90-95). Elsevier-Hanley and Belfus Inc.


CONTACT US

Address

Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah
No 35 C RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12740